6 April 2009 Operator Banting , Pelanggan yang Pusing Tahun 2008 bisa dibilang sebagai tahun capek industri seluler Indonesia. Gimana nggak capek, setiap hari pelanggan dikasih promo perang tarif, murah sana, murah sini, gratis situ, bonus sini. Capek deh.
Pelanggan makin bingung dengan kecap operator yang terus membuai mereka dengan program marketing tanpa henti. Yang satu bikin seperak per sekali ngoceh, yang lain malah nol koma nol sekian. Walau ada tulisan syarat dan ketentuan berlaku (pakai font cilik pula), jadi terkesan sedikit membodohi konsumen. Tapi begitulah situasi kompetisi operator telekomunikasi bergerak di Indonesia. Carut marut. Tadinya dikira perang tarif yang dimulai sejak 2007 lalu bakal mereda pada 2008. Ternyata makin menjadi-jadi. Kalau sebelumnya operator FWA yang paling aktif, selama 2008 kemaren, operator GSM kayak orang kebakaran jenggot. Padahal nggak ada eksekutifnya yang punya jenggot. Yang ada juga kumisnya dicukur kayak Pak Hasnul.
XL memang paling gencar. Diawali dengan tarif Rp 0,1 per detik, setelah sebelumnya berpuas ria dengan tarif Rp 1 per detik. Awalnya sih reaksi operator lain adem ayem aja. Tapi lama-lama kali gerah juga melihat pelanggannya lama-lama digerogoti oleh XL. Buktinya, gara-gara promo tarif itu, semester I 2008 lalu, total outgoing minutes XL naik 10 kali lipat menjadi 19,3 miliar menit dari dari 1,7 menit semester I 2007 lalu. Pelangganya juga meningkat dari 10,2 juta jadi 22,9 juta pada periode itu. Kata bosnya XL, Hasnul Suhaimi--yang tidak ada hubungan sodara sama Ami Suhaimi vokalis Kumpulan Search itu--promo tarif nol koma sekian tersebut memang bertujuan untuk meningkatkan utilisasi jaringan XL. Karena selama ini trafik pada daerah tertentu belum maksimal, maka dibikinlah program itu. Dan seperti kata Dora.. berhasil.. berhasil!
Dan yang bikin demennya lagi nih, gaya XL ini bak gayung bersambut. Operator GSM yang pertama nyambut gayungnya justru Indosat. Kenapa Indosat, bukan Telkomsel? Nggak tau, mungkin gara-gara Telkomsel masih pede dengan banyaknya pelanggan, walaupun belakangan ternyata ngeper juga. Indosat sama XL justru beberapa kali bikin program yang hampir mirip. Bahkan pernah kejadian, dalam satu hari keduanya mengeluarkan iklan yang senada seirama di sebuah media cetak nasional, waktu bikin promo tarif Rp 0,000001 per menit. Selama 2008 lalu, iklan program berbalas iklan antara XL dan Indosat paling sering menghiasi media cetak nasional (dan dinikmati HandPHONE juga, hehehe).
Turunnya tarif interkoneksi pada April 2008 juga makin menambah daya gedor perang tarif. Apalagi pemerintah mulai menegaskan agar operator kudu menurunkan tarif 10% sampai 30%. Operator besar terus menari-nari dengan program yang gokil abis (tetep dengan syarat dan ketentuan berlaku). Sementara operator kecil hanya bisa garuk-garuk aspal. Maklum, duit promonya nggak segede operator besar.
Yang duitnya nggak berseri kayak Telkomsel juga awal-awalnya sih masih jual mahal. Tapi gara-gara nggak mau ngikutin gendang yang ditabuh operator lain, terbukti pendapatannya ikutan merosot. Memang sih, pada semester I 2008l jumlah aktivasi nomor Telkomsel masih naik sekitar 22% menjadi 52,4 juta nomor dibandingkan 42,8 juta aktivasi. Tapi pendapatannya sendiri turun. Misalnya pendapatan dari Kartu Halo turun 15%, sedangkan dari SMS turun 26%.
Makanya, sejak semester II 2008, Telkomsel akhirnya kian gencar melakukan promosi tarif, meskipun yang dilakukan operator besar ini masih dalam batas-batas yang wajar. Misalnya program 5:3, alias bicara lima menit bayar 3 menit. Kemudian program promosi kartu AS juga digencarkan lagi.
OPERATOR BARU Terus gimana nasib operator baru selama 2008 lalu? Pelan tapi pasti, operator baru kayak Axis, Smart dan 3 sebetulnya juga berhasil mengumpulkan pelanggan... eh, aktivasi nomor, yang cukup signifikan. Misalnya Axis. Walau operator ini awal-awalnya kena rumor nggak sedap gara-gara namanya, tapi program angka 6-nya cukup berhasil. Terakhir ketika Axis mengeluarkan biaya ngoceh Rp 1 per nelpon tanpa syarat, program ini cukup berhasil mengatrol aktivasi nomor. Sampai Oktober 2008, Axis berhasil melakukan aktivasi 2 juta nomor. Padahal tadinya 2 juta aktivasi baru ditargetkan sampai akhir 2008. Berarti baru Oktober, sasaran sudah tercapai. Sampai akhir 2008, Axis memperkirakan bisa meraih 3 juta aktivasi.
Menurut Erik Aas, bosnya Axis, sebagai operator baru, mencapai 3 juta aktivasi ini dalam waktu kurang dari setahun jelas sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Terutama di tengah kompetisi yang sangat ketat seperti sekarang. Axis juga cukup kreatif mengeluarkan layanan, seperti Axis Salam atau menggandeng pelajar, termasuk ikut mensponsori program musik. Sayangnya Pak Erik tidak berani memberikan berapa rata-rata ARPU operator tersebut.
Tak cuma Axis, Smart juga cukup kreatif mengeluarkan program marketingnya. Yang jadi ciri Smart adalah program bundling hape murah, dengan menggandeng vendor macam ZTE atau Haier. Terakhir program Beli Telor Dapet Sapi, eh.. Ayam dengan menggandeng gerai-gerai retail nasional, cukup berhasil meraih pelanggan. Menurut Deputy CEO Smart, Djoko Tata Ibrahim, sampai akhir 2008, Smart menargetkan sekitar 3 juta pelanggan.
Djoko yakin dapat meraih pelanggan sebanyak itu dengan perluasan cakupan ke luar Jawa. Sampai akhir tahun, cakupan Smart akan meluas hingga Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Maluku dan Papua. Smart optimis dengan sistem pentarifan yang menawarkan tarif dasar dengan harga murah. “Kami menjamin tidak akan menaikan tarif karena tarif Hemat kita saat ini adalah dasar patokan tarif yang baku, malah mungkin nantinya bisa turun,” kata Pak Djoko.
Yang agak adem ayem 3. Awalnya 3 pengen memposisikan diri sebagai layanan premium, mengingat di beberapa negara, 3 lebih banyak menjalankan layanan data dan generasi ketiga. Tapi di Indonesia ternyata nggak berlaku. Mungkin nggak tahan godaan dari operator lain, 3 pun ikut-ikutan promo tarif murah. Paket nelpon gratis dan SMS sesama 3 cukup berhasil menggoda pelanggan. Terakhir 3 mengeluarkan paket murah untuk telpon ke luar negeri. Nelpon ke Bangkok lebih murah daripada nelpon ke Bangka.
Jumlah aktivasi 3 kabarnya sudah lebih dari 2,5 juta. Ngomong-ngomong soal 3 ini, kemaren kita nemu ada yang obral starter pack-nya di kaki lima dengan harga cuma Rp 3.000, udah dapet bonus pulsa Rp 15.000. Waduh.. dari mana mereka dapet perdana 3 ya?
MULAI KENDOR Memasuki kuartal IV tahun 2008, perang tarif mulai sedikit kendor. Mungkin para operator sudah melihat tarif mereka sudah seperti debit air Manggarai waktu nggak musim banjir. Sudah tipis banget marginnya. Meski jumlah pelanggan naik terus, tapi pendapatan tidak naik secara signifikan.
Mungkin juga setelah dapat semprit dari regulator agar para operator jangan terjebak pada perang tarif yang bisa-bisa malah menyulitkan diri mereka sendiri. Maklum, beberapa kali pemerintah memperingatkan agar duit yang dipakai untuk iklan tersebut jangan sampai dibuang-buang percuma oleh program yang hanya seminggu kemudian direvisi lagi.
Meskipun mulai kendor, saling serang dan sindir sih masih tetap terjadi pada industri seluler nasional. Dasar kelakuan. Iklan yang dikeluarkan operator bahkan tak jarang menyindir operator saingannya. Iklan Kawin Sama Monyet-nya XL yang diplesetkan oleh kompetitornya, justru diganti XL dengan Monyet-nya sekalian yang nyindir operator lain.
Kabarnya lagi, menjelang akhir tahun ada isu tak sedap yang terjadi antara Telkomsel dan XL terkait dengan dugaan pembakaran perangkat promosi Telkomsel oleh ”oknum berseragam XL”, yang dibantah sendiri oleh XL. Nah, serunya lagi, perangnya langsung ke media cetak. Padahal mereka punya ATSI, lho.
Sebetulnya persaingan seperti ini bukan cerita baru. Adu spanduk operator di satu daerah kabarnya sudah jadi mainan lama. Dulu bila ada satu operator menggelar acara gede di suatu daerah, operator lain malah yang sibuk masang spanduk mereka biar lebih rame dibanding yang bikin hajatan. Dari bandara sampai jalan-jalan protokol biasanya dihiasi dengan spanduk operator saingannya. Padahal apa sih untungnya? Apa strategi ini bisa nambah pelanggan? Hmm.. nggak jelas, deh.
Cerita operator seluler selama 2008 memang seru sekaligus bikin geli. Jangan-jangan sekian persen dari biaya pendapatan atau keuntungannya sudah dialokasikan untuk ”memerangi kompetitor”. Kita lihat saja deh, apakah 2009, operator seluler sudah capek. Atau bikin kita tambah nepok jidat. Capek deeee..
ADA HEPI TAPI NGGAK HAPPY Saat operator lain berlari kencang pada tahun 2008 ini, Mobile-8 Telecom justru tampak kepayahan. Munculnya operator baru dan juga menggeliatnya operator GSM dan CDMA dalam menawarkan tarif ngoceh murah membuat Mobile-8 agak sulit mengejar liukan strategi kompetitornya. Padahal tahun 2008 mereka ikut mengeluarkan layanan FWA, bernama Hepi, lho. Tapi mungkin nasibnya belum Hepi banget.
Di tengah bayangan peningkatan laba yang dialami operator lain, pada semester I 2008, Mobile-8 Telecom justru mengalami rugi bersih sebesar Rp99,802 miliar. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu turun sebesar 325% dari laba bersih sebesar Rp 44,353 miliar. Sebetulnya, pendapatan usaha Mobile-8 Telecom naik sebesar 17,39% menjadi Rp 456,055 miliar sampai Juni 2008 dari sebelumnya Rp 388,470 miliar. Tapi karena tingginya beban usaha, yang mencapai Rp 467,990 miliar atau naik 41,74% (ngapain aja tuh), menyebabkan keuntungannya sedikit tergerus. Apa karena baru bikin Hepi, ya?
Terus terang, kita juga melihat Mobile-8 tak terlalu agresif pada 2008 lalu. Padahal selain menawarkan Hepi yang punya tarif seceng per hari nelpon sampai puas, program promosi Fren-nya juga cukup menarik. Tarif murah sesama lewat iklan Ngoceh Sampai Dower bahkan sering muncul di televisi. Mudah-mudahan di tahun 2009, Fren bakal lebih Hepi.
dikutip dari majalah HANDPHONE (majalah HP)13-04-2009